Home » » DISTORSI DIRI

DISTORSI DIRI

Written By Unknown on Selasa, 14 Agustus 2012 | 09.06.00

Susunan harap terus dirangkai sedemikian rupa, merancang aksi untuk menghapus kesedihan yang melekat dalam dada, adrenalin jantung yang kian menanjak sampai amper teratas merambat pada otak yang terus berfikir dari siang hingga malam, ruang kerja yang tak pernah henti membuat diri tersiksa, menuju pada satu obsesi kematian untuk menyelesaikan permasalahan dalam dada.
Untuk meraih kedamaian dalam dada segala upaya terus dilakukan demi melupakan permasalahan dalam diri pribadi, meski titik permasalahan sudah terlihat jelas, dari titik mana yang akan kita benahi terlebih dahulu?, karena ruang kerja otak yang terlalu menumpuk dan aksi yang terlalu banyak, membawa kita dalam satu obsesi untuk memecahkan titik pusat angkara dalam diri ini, “kami memilih mati konyol dari pada harus hidup teraniaya”.

Obsesi ini tidak bisa dipungkiri meski orang bicara “tolol demi membersihkan masalah memilih kematian sebagai obat”, hal ini tidak bisa dirasakan oleh mereka yang berbicara tolol, tetapi mereka berbicara benar hanya orang tolol memilih kematian sebagai obat, kami memilih mati terhormat dari pada harus mati konyol, konsistensi kami adalah membuka lembaran baru, membenahi semua bentuk masalah atas tingkah laku kami sembari menanti datangnya kepastian dari Sang Pencipta.

Ketika sebuah luka yang menembus pada dada begitu melekat dalam ingatan, projek ini menuntun untuk melakukan hal – hal konyol, apapun terus dilakukan untuk menghapus sayatan kata yang telah merobek organ dalam tubuh, dari bersenang – senang bersama kawan, meneguk nikmatnya anggur dan arak, melakukan kegiatan sosial ataupun non sosial sampai memanjatkan doa kepada Sang Pencipta untuk segera mengutus malaikat untuk menjemputku agar aku bisa pergi ke alam kekal. Masa dimana ini adalah suatu bentuk amarah yang tak tertahankan, tangisan dada yang begitu kental, mental yang sudah tidak seimbang, hidup sudah terasa kaku layaknya zombie yang bergentayangan tak jelas apa yang akan dilakukan, akan kemana kaki ini melangkah, apapun yang dilakukan tidak terasa nikmat meski orang memaki atau memuji diri ini, hanya tatapan kosong yang terlihat, jauh dari segala bentuk keindahan atau kesenangan, hanya tangis dan kesedihan yang menyelimuti diri. Dengan mengenang sejarah indah, diri ini dapat sedikit tersenyum, tertawa menyeringai karena menahan rasa sakit yang terlanjur melekat dalam tubuh, tak heran hal – hal konyol menjadi runtinas setiap hari.

Dinamika hidup yang penuh dengan ketidakpastian, segala bentuk kehidupan hanya sementara yang tak dapat dimiliki selamanya, maka hanya memanjatkan doa aku memohon sebuah kepastian yang dapat dimiliki selamanya, yaitu menanti datangnya malaikat dan hidup di alam kekal. Terlalu lama roh ini menyatu dalam raga seperti apa yang dikatakan Soe Hoek Gie “beruntung yang mati muda, sial yang mati tua, dan lebih beruntung yang tidak dilahirkan”. Sebuah kalimat yang mempunyai makna besar dan indah untuk dirasakan, meski orang berkata “itu tolol”. Realita mengatakan bahwa bumi itu bulat, tetap berputar pada porosnya, ini sebuah ketentuan mutlak dalam kehidupan, bahwa hidup itu tidak selamanya indah, tidak selamanya sedih, tidak selamanya senang, tidak selamanya sengsara, sampai kita hidup di alam ini hanya sementara, semuanya bersifat sementara, jadi bukan hal konyol jika kami menginginkan sebuah kepastian, bukan yang bersifat sementara. Dan aku tidak akan pernah menyesal atas doa yang aku panjatkan kepada Sang Pencipta, karena ini adalah jalan yang aku inginkan dan terbaik untukku, dimana aku terlalu lama hidup di alam yang sementara, hidup penuh dengan mimpi dan angan – angan kosong.

Ditulis Oleh : Lutfi Rosihan a.K.a Cupe a.K.a Bangkong
SHARE

About Unknown

0 komentar :

Posting Komentar