Matahari dan bulan tidak pernah lelah menyinari bumi, bintang terus bertebangan diangkasa, bumi dan langit serta isinya terus memberikan pelayanan kepada kita. Organisasi ini terus tersusun rapi serta memberikan efek nyata kepada kehidupan manusia. Bagaimana sistem kerja organisasi bentukan Sang Pencipta ini bukan sekedar organisasi yang mengejar sebuah keuntungan, melainkan memberikan pelayanan kepada makhluk hidup dan isi bumi. Ini adalah organisasi yang memiliki pencitraan yang sangat berpengaruh bagi kehidupan alam semesta ini.
Ketika manusia tidak pernah menghargai atas pelayanan yang telah diberikan oleh organisasi ini, amarah yang tidak dapat terbendung, kemurkaan dari alam yang tidak dapat terelakan lagi, yang dikemas menjadi “bencana alam”, sebuah ujian dari Sang Pencipta serta asumsi yang lainnya. Semua definisi ini yang kami sebut dengan definisi koyol, hampa. Ketika dialektika para intelektual, cedikiawan, para pakar alam menyebutnya gejala alam, bencana dsb. Tapi tidak semua berfikir kearah sana, dimana setiap apa yang kita lakukan pasti ada hasilnya, baik itu berupa kebaikan atau keburukan. Apa yang kita lakukan pada alam,alam akan memberikan hasil dari tingkah laku kita terhadap alam.
Bagaimana Tuhan Yang Maha Esa meciptakan bumi beserta isinya serta dibawah hamparan lagit yang tidak pernah berujung. Untuk kelangsungan hidup hajat semua makhluk. Pada saat organisasi ini mulai berbisik, manusia mulai kalang kabut memohon ampun kepada Sang Pencipta. Karena mereka tidak menghargai dengan tingkah laku manusia yang tidak bisa menghargai atas pelayanannya.
Ketika para ahli mulai mengkaji lebih dalam atas apa yang terjadi dengan bumi dan bisikan alam semesta, melalui argumen yang didasarkan pada logika, mereka hanya bisa berucap “ini merupakan bencana alam”,. Gerai – gerai ramalan melalui alat telekomunikasi informasi tidak pernah berhenti untuk mencapai ketenaran dan penghasilan. Mereka yang bernaung dibawah panji keuntungan, kian tidak jelas dakwah apa yang mereka tebar? Sungguh sebuah kebodohan jika kita percaya, sebenarnya apa yang dikejar? Kekonyolan ini terus dilakukan secara berkala merubah sesuatu yang laknat menjadi selumrah siang dan malam.
Hari ini revolusi alam mulai bergejolak, pancaroba tanah dan angkasa yang tidak bisa diramal kembali, sehingga melahirkan ribuan dukun yang berterbangan di media elektronik komunikasi (ketik reg sapasi ker urang sapasi ker maneh kirim ka imah urang), atas nama stabilitas domba – domba umat yang berdiri ketiak laba dan kemaslahatan privat apapun terus dilakukan sampai dunia ini tergulung.
Perputaran roda revolusi kian mengencang deras tidak dapat terhindarkan yang memaksa kita masuk kedalamnya. Revolusi ini bergerak menusuk tanpa terasa sakit namun efek dari revolusi terasa sakitnya secara berkala yang menimbulkan sebuah penyakit yang bernama kesenjangan sosial yang begitu signifikan. Tujuannya revolusi hari ini jelas terlihat secara kasat mata namun tidak membuka mata hati, seakan dibutakan oleh kepentingan duniawi secara privat, hebatnya revolusi ini dapat membekukan sebuah negara, dimana negara tidak lagi berkewajiban melayani rakyatnya melainkan mengawasi rakyatnya dan dilayani oleh rakyatnya. Revolusi hari ini penuh dengan diaklektika tanpa arah yang terus menusuk kesegala sektor yang membawa kita masuk kedalamnya serta menjadikan kita terikat dengannya.
Mungkin terlalu subuh kita harus membuka sarapan yang tidak jelas apa yang akan kita makan hari ini. Tapi akan kami makan meski pahit akan kami telan, tanpa harus merusak kenyakinan kami yang tidak berharap revolusi ini hampa. Tapi dengan penuh kesadaran serta kesabaran kami yakin revolusi ini akan kami arahkan yang menurut kami baik.
Ditulis Oleh : Lutfi Alumni
Sumber : http://bacotan-bacotan.blogspot.com/

0 komentar :
Posting Komentar